FMIPA NEWS – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Makassar, AG. Dr. KH. Baharuddin H. Abd. Safa, MA. yang juga Rois Syuriah PCNU Kota Makassar, memberikan Tausiah Awal November dihadapan civitas Universitas Islam Makassar di Masjid Ash-Shahabah, Senin (06/11/2023).

Sebelum memulai tausiahnya, Civitas Akademika Universitas Islam Makassar telah melaksanakan Upacara yang rutin dilaksanakan di Senin Pertama Setiap Bulannya, Kemudian dilanjutkan Sholat Dhuha bersama dan Qiraan Surah Al-Waqiah secara bersama-sama.

Diawali tausiah beliau, mengingatkan kepada Khalayak tentang apa yang telah beliau sampaikan bulan lalu mengenai Definisi Cinta atau nama lainnya adalah Muhabbah, Muhabbah yang dimaksud adalah Muhabbah yang sungguh-sungguh yang pada hakikatnya ketika mencari definisi nya maka tidak akan ada yang bisa menemukan definisi itu sendiri.

Sehingga ketika seseorang sudah mencapai tingkatan Muhabbah itu sendiri maka itu sudah menjadi Maqom Tertinggi yang dia raih, upaya yang dia lakukan dalam mencapai Muhabbah itu hanya Muqaddimah dari Maqom nya atau upaya, proses atau cara yang dia tentu untuk mencapai tingkatan apa yang disebut dengan Cinta itu sendiri hanya pengantar dari Maqom yang akan dia capai. Ketika Muhabbah atau cinta tersebut dia telah dapat, capai selanjutnya hanya disebut sebagai pengaruh nya saja.

Selanjutnya dalam tausiah nya Ketua Umum MUI Kota Makassar menyampaikan 3 (Tiga) dari 10 (Sepuluh) Tanda-Tanda Cinta Seorang Manusia Kepada Allah dan Rasulnya, yaitu yang pertama Seorang Muhabbah adalah Insan yang tidak takut dengan Kematian, yang Kedua Seorang Muhabbah selalu mendahulukan/mengutamakan cinta yang dicintainya daripada cintanya sendiri kepada sesuai lain hal., dan yang Ketiga Seorang Muhabbah selalu mengingat kepada apa yang dia cintai

Selain dari itu juga disampaikan Tanda-Tanda Cinta Seorang Muhabbah itu terasa di Hati, kemudian di lidah selanjutnya di seluruh Anggota Badan Lainnya. Sehingga seseorang yang merasa lingkungan/sekitarannya baik itu kelompok atau keluarganya sudah merasa aman, tubuh sehat yang diperoleh serta tidak kelaparan atau selalu ada hal yang dapat dikonsumsi, sesungguhnya itulah tandatanda dia telah memiliki dunia.

Di Akhir Tausiahnya Ketua MUI Kota Makassar menyampaikan kisah pendek mengenai seseorang yang mencintai Wanita yang dikenal dengan Majnun Wa Layla yang merupakan kisah klasik timur tengah, dimana sang Majnun adalah Qais bin Mu’adz yang kebetulan berada disekitaran lingkungan dari Rumah si Layla tersebut. Kemudian dia menghampiri rumah Layla tersebut dan mencium rumah tersebut yang menandakan bahwa disini pernah tinggal seseorang yang pernah Majnun tersebut Cintai, Disimbolkan seperti hampir sama dengan seseorang yang berziarah ke Makam/Kuburan Keluarga yang dicintainya kemudian dia cium Batu Nisan sebagai bentuk cintanya kepada seseorang yang telah meninggalkannya.